Senin, 19 November 2012

Test.. Test..

Belakangan perkembangan fotografi, model, fashion jadi maju sangat pesat. Hari ini semua orang bisa jadi fotografer, semua orang bisa jadi model. Ga perlu punya Nikon D90 dulu baru bisa disebut fotografer, pake kamera Hp aja foto-foto bisa bagus. Jadi model juga begitu, kita ga perlu daftar di agensi, ikut seleksi, lulus baru bisa disebut model. Bahkan teman-teman kampus saya pun sudah banyak yang jadi model, kadang model iseng-iseng buat seru-seruan aja, bahkan juga ada model untuk peragaan busana. W-O-W keren banget.
Model juga ga terbatas pada perempuan-perempuan seksi aja, pake baju-baju kebuka. Sekarang juga banyak model muslimah, yang cantik, anggun dan tetap sar'i. Waah di dunia maya buanyak buanget model-model cantik, indah, menawan dan rupawan yang saya lihat. Kebanyakan dari mereka pecinta fashion muslimah.Mayoritas mereka yang saya lihat adalah perancang busana, mereka memulainya jadi fashion blogger. Sampe sekarang pun masih. Saya jadi kepengen kaya mereka, foto-foto pake baju bagus-bagus, cantik-cantik, jilbab modis, dan tetap sar'i. Malah suatu hari saya juga pengen blog ini jadi fashion blog juga. Cuma kenapa yaa.. saya masih merasa ga pantes,malu foto-foto sendiri pake beberapa longdress sar'i yang saya punya tapi belum pernah di pake :P trus upload kesini atau fb/twitter saya masih ngerasa ga cocok aja, takut di ketawain. hehhehee
#wish list: pengen jadi fashion blogger

saya coba-coba aah, mulai dengan keberanian upload muka dulu aja. Pengen narsis juga kaya orang-orang


ini muka aslii, ahhhaaaa 



ini atas-bawah, foto pas pagi-pagi nunggu di jemput mau ke RS Restu ibu liatin temen yang baru melahirkan. jemputannya lamaaaaaaa banget baru datang. hahhahaa



Selasa, 15 Mei 2012

Childhood sweet memories




me vs big bro (dinal, he becomes a fresh graduated now!)




me vs cousin (ade widanti and she is a fresh graduated too)




we shared all kind, joy and happiness



kami semua lahir di tahun yang sama 1991 dan tentunya dari ibu dan ayah yang berbeda :)


and here i'am... at 4th or 5th years old.. :) the sweet side start here.. 


Doc Martens (the story)


Doc martens itu sepatu yang kerreeeen banget menurut saya. tampilannya gagah, feminin tapi kuat, mencerminkan karakter perempuan. Doc martens adalah salah satu jenis sepatu dengan model boots yang konon katanya bersol sangat lembut dan empuk (yang original tentunya). Sepatu ini katanya adalah sepatu asli dari Inggris, tapi belum banyak yang tau ternyata pencipta sepatu ini adalah seorang dokter dari Jerman yang bertugas untuk tentara Jerman semasa perang dunia ke II. Waktu perang dunia ke II dr. Klaus Marten mengalami cedera kaki, kemudian ia memodifikasi sepatu bootsnya dengan sol yang sangat lembut dan empuk. Perang berakhir dan sang dokterpun menjual ide kreatifnya, ia membuka sebuah usaha sepatu rumahan dengan temannya. Seiring perkembangannya sepatu ini kemudian dibeli oleh sebuah perusahaan di Inggris.

ini salah satu penampakan sepatu doc martens

ini ada lagii, ga kalah keren 
dan ternyata saya sudah pake doc martens sejak keciiil. woooooww!!



 waktu saya tanya ibu saya ada dimana sekarang sepatu itu, beliau ga tau sama sekali. Ibu saya bilang: "kan kita udah pindahan dari rumah yang dulu, ketinggalan mungkin..." sayang banget, padahal kan saya bisa pamer kalo sejak kecil saya udah pake Doc Marten, itu foto di atas sekitar tahun 1994-1996. Bisa bayangin dong yaa, betapa saya sejak kecil udah keren banget hahhahaha... sayang, sekarang saya ga mampu beli Doc marten..

Rabu, 27 Juli 2011

Cerita tentang sekolah (juga)

3 minggu yang lalu, saya main ke rumah saudara di daerah banuaran. Ceritanya dia punya 2 anak laki-laki, dan si sulung mulai masuk SD bulan ini.

Uni: "far, si bintang lulus di SD A "

saya: "iyo tu ni? mantap mah..

"Uni: "iyo, hasil ujiannyo no* (saya lupa rangking brapa yg pasti 10 besar)

"saya: "yo mantap bintang ko nak ni"

Uni: "iyo far, hahhaa alhamdulillah"

keponakann saya satu ini memang luar biasa cerdas, belum sekolah tanpa diajarin bisa otak-atik laptop om nya, ganti wallpaper, nyari game, bahkan bikin pasword pembuka di laptop. Oya, dia juga punya gambar yang luar biasa keren!! Kapan-kapan saya kasi liat gambarnya, pasti ga ada yang percaya kalau gambar2 itu dibuat anak umur 7 tahun.

kembali ke percakapan saya

saya: "emang pakai tes lo masuak SD ko ni? apo se tu tes nyo?"

Uni: "iyo far, apo lai SD A  tu SD rancak, anak2 yang lulus banyak di tarimo di SMP favorit. Tesnyo mambaco, berhitung, samo ngaji"

saya: "iyo nak ni, si Bintang kan alah lamo pandai mambaco, jo maituang. Emang ado lo anak yang dak lulus ni?"

Uni : "lai bantuaknyo far, ado anak tu dak lancar bana mambaco jo maituang do dak ado nampak nyo di SD si bintang do"

Pertanyaan saya : "bukankah sekolah itu tempat untuk membuat yang tidak tau menjadi tau? membuat yang belum bisa baca jadi bisa baca? sekolah untuk mencerdaskan anak bangsa. lalu kenapa anak yang BELUM bisa baca itu tidak diterima??"  

Senin, 30 Mei 2011

I called it "Diamond"



Ini malam, saat hujan telah selesai menunaikan tugasnya. Saat tanah sudah basah, membuat akar tumbuhan dengan gampang mendapatkan makanan untuk ia bagi-bagikan esok hari pada batang, daun dan ranting.
Seperti halnya akar tanaman, dalam hidup pun kita harus saling berbagi, entah itu bahagia, sedih, suka, duka, lara, cita dan sebagainya.

Malam ini saya agak “gloomy” mungkin ini imbas dari novel yang baru saja saya baca, tapi entahlah. Masih ada 80 halaman lagi menuju ending. Saya lupakan sedikit rasa penasaran untuk itu.


Saya kembali mengingat tentang hidup saya. Senang, susah, bahagia, sedih, kantong tebel, kantong tipis, kuliah, rumah, keluarga, pacar, teman juga pekerjaan. Ada saat dimana saya ingin kembali ke beberapa waktu yang lalu, saat saya masih melihat semua orang itu baik tanpa cela, saat saya merasa kehidupan begitu mudah untuk saya, saat banyak hal yang dalam fikiran saya akan saya dapati di beberapa tahun akan datang tapi telah saya dapati waktu itu. Tapi ya begitulah, tak pernah ada hidup yang benar-benar nyaman, tak ada pengalaman tanpa halangan, tak ada putih tanpa noda (sekalipun udah pake “surf” ;P).


Namun seperti yang pernah saya update di status facebook beberapa waktu yang lalu “saya yakin, hidup yang saya jalani sekarang adalah sebaik-baiknya hidup yang Tuhan pilihkan untuk saya, dan saya sangat bersyukur atas hal tersebut”. Awalnya ini hanya sebagai sugesti bagi diri sendiri, namun sekarang saya mulai melihat sesuatu yang berjalan dibalik status itu.

Ketika saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang “mengherankan” bagi beberapa orang, setelahnya saya justru punya banyak quality time untuk diri sendiri, keluarga, pacar dan sahabat. Sekarang saya ketemu mama bukan hanya ketika pamit mau memulai hari saya dan ketika pulang kerumah dalam keadaan ngantuk dan capek, kami justru punya beberapa sore untuk sekedar bahas gossip di tv. Jarang malam mingguan sama pacar, karena sabtu pun kadang harus tugas ke luar kota. Selalu menunda untuk ketemu sahabat lama yang akhirnya kami tidak jadi jalan bersama karena pembatalan itu lagi-lagi dari saya. And thank’s God for it! Sekarang saya bisa mengatur jadwal saya sesuai keinginan saya, bukan atas kehendak pihak lain.


Kemudian ketika orang-orang yang saya anggap keluarga dan sahabat menjauh dari hidup saya, saya justru menemukan sahabat baru yang jauh lebih tulus, yang tidak melulu bicara fashion tapi juga perjuangan teman kami yang lain untuk tetap survive kuliah. Tentang ancaman tehadap eksistensi organisasi kampus, mengenai pandangannya selama ini tentang saya, yang agak sedikit buat kuping saya merah, namun saya senang, mereka tulus bercerita dan lebih senangnya lagi saya tahu itu sekarang bukan esok!

Mengetahui banyak diluar sana mereka yang sangat tulus terhadap saya setelah beberapa guncangan yang saya alami belakangan ini membuat saya yakin dan kuat bahwa “Tuhan tidak akan membawa saya sejauh ini hanya untuk meninggalkan saya”. Bahwa banyak sahabat yang ikut mendukung saya, yang saya baru tahu belakangan ini, mereka yang selalu mendoakan saya, memerhatikan perkembangan saya, melihat perjalanan saya, memarahi ketika status facebook saya mulai menunjukkan tanda-tanda “desperate”, membuat status tandingan untuk menyindir saya bahwa ke”desperate”an saya salah. Mereka yang tanpa saya ketahui dan sadari sangat tulus untuk itu.

Cinta mereka, keluarga, pacar, sahabat yang terasa luar biasa indah setelah berbagai hal yang tejadi ini menguatkan saya. Sangat.

Seperti berlian, butuh waktu yang lama untuk kita tahu dimana sisi dan bagian yang paling tepat untuk melihat betapa menakjubkannya berlian tersebut, karena kita tidak akan pernah bisa secara bersamaan melihatnya dari semua sisi. Begitulah hidup untuk saya. 

Jumat, 04 Maret 2011

bitter sweet side

banyak hal yang terjadi belakangan ini, pahit manis, asem, semuanya terjadi di angka 20. saya bangga pada angka ini, ia memberi spirit luar biasa untuk tetap kuat tegar menjalani semua. satu persatu akan saya buka.. there is a bitter side an sweet side. i love my life ! it likes an orange, sweet, bitter, beautifull, i love it so damn!

Senin, 22 November 2010

Menulis dan Hantu


Menulis. Saya sudah diajaran sejak kecil. Tahap pertama, saya diminta untuk menulis huruf dari A-J, kemudian bertambah dari K-Z, lalu angka 0-9, lalu belajar merangkai huruf-huruf tadi menjadi sebuah kata. Saya tidak mendapatkan pelajaran ini di Taman Kanak-kanak atau Play Group bahkan Pre school seperti anak-anak sekarang, karena saya tidak pernah masuk ke institusi yang sangat indah itu.

Ketika umur saya lima tahun pada 1996, saat itu kami sekeluarga pindah ke rumah baru yang hingga sekarang masih kami tempati, abang saya satu-satunya juga harus pindah sekolah. Alhasil, pagi itu ibu saya mendaftarkan abang saya ke sekolah barunya di SDN No. 17 di kelas 3, tak ketinggalan saya ikut, karena saat itu saya adalah anak bontot jadi masih sangat manja dan harus ikut kemana saja ibu pergi. Melihat anak kecil memakai seragam putih merah, sayapun ingin. Maka di ruang kepala sekolah itu ibu saya juga mendaftarkan saya sebagai murid baru, akhirnyalah saya tidak menikmati belajar di sekolah bercat warna-warni, duduk di bangku kecil berwarna biru dengan ayunan dan perosotan di halamannya.

Sekarang, menulis seolah jadi hantu bagi saya. Saya kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, tanggung jawab saya untuk bisa menulis (ini menurut saya), menulis dengan standard seorang “mahasiswa”, oke ditambah, menulis dengan standard seorang “mahasiswa komunikasi”.  Mahasiswa yang sering disebut-sebut sebagai kaum intelektual (makanya kata mahasiswa saya beri tanda kutip) dan itu menjadi beban bagi saya. Mahasiswa komunikasi yang belajar banyak teori di kelas, mahasiswa komunikasi yang kemudian akan menjadi wajah pers dimasa depan, pers yang tentunya akan mengutamakan kepentingan public, menulis dengan sudut pandang yang objektif.

“manfaatkan kekeyaan intelektual yang dianugrahkan Tuhan pada kalian, jangan biarkan ia sembunyi dibalik wajah rupawan yang selalu kalian bangga-banggakan, bahkan kekayaan intelektual itu jauh lebih mahal daripada semua kendaraan yang kalian bawa dan terparkir di sepanjang DPR” (sebutan untuk tempat parkir sekaligus tempat berteduh mahasiswa fisip khususnya di kampus saya –dibawah pohon rindang-) begitu salah seorang dosen pernah berkata.

Menulis seolah menakutkan, saya takut tak memenuhi standard seorang “mahasiswa”, menulis seperti hantu. Saya selalu dikejar-kejar untuk dapat menulis dengan baik tapi tak tahu siapa yang mengejar saya, saya paranoid saya sebut ini “writeparanoid” (penyakit baru). Dengan fasilitas yang memadai, teknologi yang sangat canggih, orang-orang luar biasa disekitar saya yang bisa menjadi guru bagi saya, kemudian kenapa saya masih belum bisa menulis? Eh bukan, tapi kenapa saya masih belum percaya diri untuk menulis?

“menulis itu gampang far, yang menurut fara berat itu adalah memulainya” begitu bang imu pernah berkata pada suatu sore di Rumah Semut (secretariat Lembaga Perlindungan Anak  Sumbar).

Ibu saya sering bilang: “kalau ndak dicoba, darimana kamu tau kalau kamu salah?”

Baik, sekarang saya akan coba melawan writeparanoid saya ini, doakan saya agar segera pulih